Mengasah Imajinasi Anak

| Minggu, 09 Maret 2014
Penulis : AN. Ubaedy*
Imajinasi adalah kapasitas penting bagi anak-anak. Malah ada sebagian ahli yang berpendapat bahwa untuk anak berusia 3-6 tahun, mengembangkan kapasitas ini jauh lebih dibutuhkan ketimbang mengajarkan dia membaca atau menulis dengan cara seperti orang dewasa.
Ini karena kapasitas imajinasi itu akan menjadi benih-benih kemampuan menyelesaikan masalah secara kreatif, kemampuan bervisualisasi atau juga kemampuan belajar secara umum. Bahkan Albert Einstein menyimpulkan imagination is more powerful than knowledge.

Alasannya masuk akal. Sebanyak apapun orang punya pengetahuan, tapi kalau tidak punya visi mengenai apa yang akan dilakukannya dengan pengetahuan itu, maka pengetahuannya kurang berguna, bukan? Lebih-lebih kalau kurang kreatif.
Cuma, kapasitas imajinasi ini akan kurang berkembang apabila tidak diasah atau hanya akan menjadi imajinasi pasif. Seperti misalnya ada anak yang imajinasinya terkuras untuk menikmati tayangan TV atau main game berlebihan.
Imajinasi pasif semacam itu kurang bisa mendongkrak kapasitas anak untuk menjadi kreatif. Lalu, bagaimana mengaktifkannya? Ada banyak cara yang bisa kita tempuh, di antaranya adalah:
  • Menyediakan mainan yang merangsang dia untuk menggunakan pikirannya, seperti mencocokkan benda atau merapikannya. Tapi, mainannya jangan terlalu banyak, sebab akan menganggu kreativitasnya juga.
  • Hindari menggunakan aturan yang terlalu rigid (over-scheduled), atau kegiatan yang membebani dia, misalnya ngambil sekolah yang terlalu jauh sehingga waktunya habis di macet.
  • Mengurangi “terlalu menikmati” tayangan yang membuat dia pasif.
  • Menyediakan ruangan, seperti kamar khusus, yang membuat dia bisa berkreasi sebebas mungkin dengan peralatan yang sudah kita sediakan, seperti mencoret-coret, menggambar, atau merekayasa mainan.
  • Membacakan cerita atau mendongeng mengenai tokoh atau bacaan edukatif lain.

Tapi, semua cara itu baru akan optimal efeknya apabila didukung dengan pola pengasuhan yang memperbanyak dorongan dan arahan, bukan yang menyerang dia atau yang banyak larangannya.
Misalnya dia jatuh karena gagal bereksperimentasi dengan mainannya. Saat itu, yang dibutuhkan dari kita bukan menyalahkan atau melarangnya, tapi mengajarkan dia cara supaya tidak jatuh dan mendorong dia untuk bereksperimen lagi dengan imajinasinya.
Atau, ketika dia mencoret-coret di sembarang tempat, kita perlu mendisiplinkan dia agar melakukannya di tempat yang sudah kita sediakan. Dengan begitu, kita melatih dia untuk menjadi orang kreatif, namun tetap tahu aturan.
Semoga bisa kita jalankan seoptimal yang kita mampu.
Sumber : www.sahabatnestle.co.id

0 komentar:

Posting Komentar

Next Prev
▲Top▲