INILAH DUNIA KAMI…Dunia elektron dan switch, beauty of the baud.
Kalian menyebut kami penjahat. Karena kami menggunakan layanan yang
sudah ada tanpa membayar, padahal layanan itu seharusnya sangat murah
jika tidak dikuasai oleh orang-orang rakus.
Kami kalian sebut penjahat karena kami gemar menjelajah. Kami kalian
sebut penjahat karena kami mengejar ilmu pengetahuan. Kami ada tanpa
warna kulit, tanpa kebangsaan, tanpa bias agama. Tapi bagi kalian kami
penjahat. Kami adalah penjahat. Sedangkan kalianlah yang membuat bom
nuklir, mengobarkan peperangan, membunuh, berbuat curang, berbohong, dan
berusaha membuat kami percaya bahwa itu semua demi kebaikan kami. Ya,
aku adalah penjahat. Kejahatanku adalah keingintahuanku.
Kejahatanku adalah menilai orang berdasarkan perkataan dan pemikiran
mereka, dan bukan berdasarkan penampilan mereka. Kejahatanku adalah
menjadi lebih pintar dari kalian, sebuah dosa yang tak bisa kalian
ampuni. Aku adalah hacker, dan inilah manifestoku. Kau bisa menghentikan
satu. Tapi kau tak akan bisa menghentikan semuanya. Bagaimanapun juga,
kami semua sama.”
Itu merupakan ideologi hacker yang dirumuskan Loyd
Blankenship yang dikenal dengan The Mentor. Ideologi itu tertuang dalam
The Conscience of a Hacker (Hacker Manifesto).
Tak bisa dipungkiri, hacker menjadi fenomena di abad teknologi.
Namun, hacker juga memiliki citra buruk karena dianggap penjahat. Kasus
paling menghebohkan adalah pada April 2009. Hacker berhasil membobol
Pentagon dan mengambil data yang sangat penting. Data tersebut
dipublikasikan pada media terkemuka, Wall Street Journal. Harian
tersebut merilis data sistem proyek pesawat tempur termahal Pentagon
senilai USD300 miliar yang dibobol hacker itu. Proyek pesawat generasi
kelima tersebut adalah Joint Strike Fighter atau yang juga dikenal
dengan nama F-35 Lightning II Fighter. Wall Street Journal melaporkan
bahwa para peretas komputer tersebut telah dapat meraup data mengenai
desain dan sistem elektronik pesawat tersebut.
Namun, para hacker ini gagal mencuri materi yang paling sensitif.
Data paling penting tersebut disimpan rapat dalam komputer yang tidak
terkoneksi dengan internet. Para hacker menyerang melalui celah keamanan
dalam jaringan beberapa kontraktor yang turut membangun pesawat jet
canggih itu yakni Lockheed Martin Corp, Northrop Grumman Corp, dan BAE
Systems PLC. Tokoh hacker yang paling mengguncang dunia adalah Gary
Mc-Kinnon. McKinnon terseret ke meja hijau setelah pada 2001 dan 2002
dituduh telah membobol sistem komputer Pentagon dan Badan Antariksa AS
(NASA).
Namun, McKinnon mengaku bahwa dia melakukan hal itu bukan untuk
merusak atau mengobrak-abrik sistem komputer Pemerintah AS. Berdasarkan
pengakuannya, dia membobol sistem komputer NASA dan Pentagon itu hanya
untuk mencari informasi-informasi rahasia tentang keberadaan makhluk
luar angkasa atau biasa disebut extraterrestrial (ET) dan UFO. Akibat
ulahnya itu, kini dia terancam hukuman 60 tahun penjara. Pemerintah AS
menyebut Mc-Kinnon bertanggung jawab atas tindakan hacking terbesar
dalam sejarah, termasuk masuk ke jaringan komputer lembaga angkatan laut
AS dan NASA. McKinnon menyatakan dirinya hanya menjadi contoh dan
peneliti untuk menangkal para hacker yang mencoba menyusup sistem
komputer AS.
Sementara pada Maret 2009, seorang pria asal Rumania bernama Eduard
Lucian Mandru diciduk polisi karena membobol sistem jaringan Pentagon.
Pria yang sehari-hari kuliah fakultas ekonomi itu memang handal dalam
mengoperasikan komputer dan Linux. Dia menyebut dirinya sebagai
Wolfenstein dan mampu menembus keamanan jaringan Pentagon pada 2006.
Mandru berhasil diendus keberadaannya dan ditangkap setelah mengirimkan
alamat e-mail-nya saat mengirimkan lamaran pekerjaan. Dari situ,
penyamarannya dideteksi. McKinnon dan Mandru merupakan contoh kecil para
pembobol Pentagon.
The Washington Post pernah melaporkan bahwa pada 1998 dalam satu
tahun situs keamanan milik Pentagon telah 250.000 kali diacak-acak para
hacker nakal. Ada juga beberapa mantan hacker justru menjadi konsultan
keamanan di perusahaan swasta atau di institusi pemerintah. Ini
membuktikan bahwa untuk menangkal hacker, harus menggunakan hacker.
Dengan demikian, aksi para hacker pun akan semakin sempit.
Pada Maret 2009, Owen Thor Walker, hacker asal Selandia Baru,
dipekerjakan sebagai konsultan keamanan cyber oleh TelstraClear,
perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di negaranya. Padahal pada
2008, Walker digugat atas kesuksesannya menembus data 1,3 juta komputer
di seluruh dunia.


0 komentar:
Posting Komentar