beberapa bulan lalu. Meski belum diketahui otak dibalik serangan
tersebut, namun pejabat pemerintah yang merangkap sebagai peneliti
keamanan mengatakan bahwa Iran merupakan pihak yang bertanggung jawab.
"Pemerintah AS yakin bahwa Iran berada di balik serangan
ini," kata mantan pejabat pemerintah AS yang sekaligus ahli keamanan
komputer di Center for Strategic and International Studies di
Washington, James A. Lewis.
Dalam serangan yang ditujukan ke
sejumlah bank ternama di AS termasuk Wells Fargo, J.P. Morgan Chase,
Bank of America, Citigroup, HSBC, dan masih banyak lagi, para peretas
membanjiri situs bank tersebut dengan lalu lintas palsu, yang dikenal
sebagai serangan Distributed Denial of Services (DDoS). Demikian
dilansir
CNET, Rabu (9/1/2013).
"Jumlah
bandwith yang membanjiri
website sangat
besar, jauh lebih besar dari serangan lainnya, ini belum pernah terjadi
sebelumnya," sebut Chief Executive dari perusahaan kemanan swasta,
CrowdStrike, Dmitri Alperovitch.
Akibat serangan ini, sejumlah
layanan kepada pelanggan pun terganggu. Meski tidak ada data atau
informasi penting yang dicuri dari serangan, namun ahli kemanan percaya,
ini merupakan bukti serangan DDoS digerakkan oleh sebuah negara.
Sementara
itu, sebuah grup tak dikenal "pejuang maya Izz ad-din Al qassam"
mengklaim bertanggung jawab atas aksi tersebut. Kelompok tersebut
berdalih, serangan dilakukan menyusul pemuatan video kontroversial yang
mengejek Nabi Muhammad beredar di YouTube.
Meski begitu, para
pejabat yakin bahwa Izz Ad-din Al qassa merupakan upaya untuk menutupi
keterlibatan Iran dalam aksi tersebut.
Perang saraf Iran dan AS di jagad Maya
Iran dan AS diketahui memiliki hubungan yang kurang baik. AS dilaporkan melancarkan serangan cyber ke
fasilitas pembangkit listrik, perusahaan minyak, dan fasilitas nuklir
Iran dengan meluncurkan tiga virus yakni Flame, Stuxtner, dan Duqu.
Serangan
terhadap sejumlah bank dikatakan bukan akhir dari perang saraf antara
Iran dan AS di jagad maya. Laporan yang diterbitkan oleh McAfee pada
Desember lalu memperingatkan, serangan secara massal ke bank-bank AS
akan berlanjut di 2013.
Dalam laporan tersebut, sejumlah isu
seperti militer, agama, politik, dan isu ekstrim akan menjadi landasan
sejumlah pihak untuk melancarkan serangan cyber. "Mulai sekarang tidak ada bank-bank AS yang aman dari serangan kami," tulis Izz ad-din Al Qassam di Pastebin pekan lalu.